Indonesia Sukses Selenggarakan Side Event GHSA di sela Sidang Majelis Kesehatan Dunia

Senin (23/5), bertempat di Ruang 22 gedung PBB Jenewa, Indonesia dalam kapasitasnya sebagai ketua GHSA tahun 2016 sukses menyelenggarakan side-event bertema “The Role of Global Health Security Agenda (GHSA) in Supporting Countries’ Capacities to Implement International Health Regulations (2005)” di sela Sidang Majelis Kesehatan Dunia ke-69. Diselenggarakan bersama Finlandia, Amerika Serikat, Korea Selatan, Kanada, Belanda, Italia dan Chile, side-event yang berlangsung dari pukul 17.45 hingga 19.15 waktu setempat, dihadiri lebih dari 100 peserta dari berbagai negara dan organisasi. “Through partnerships with various global forums, private sector organizations, philanthropic foundations, academic and research organizations, as well as bilateral cooperations, GHSA stands ready to support participating countries with resources and global expertise in achieving the goals of Global Health Security”, tutur Menkes RI dalam sambutannya membuka acara.

IMG-20160525-WA0008

Dimoderatori oleh Prof. Tjandra Yoga Aditama, Regional Coordinator WHO-SEARO, acara dibagi dalam 2 panel. Panel pertama membahas Action Package (AP) dan Country Assessment GHSA serta perannya dalam meningkatkan kapasitas nasional. Pembicara pada panel ini adalah Dra. Maura Linda Sitanggang, PhD (Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kemkes RI) yang menyampaikan gambaran 11 AP GHSA, Dr. Guenael Rodier (Director of Global Capacities, Alert and Response, WHO HQ) menyampaikan tentang JEE (Joint External Evaluation), dan Menteri Kesehatan Amerika, Sylvia Burwell, tentang pengalaman mempersiapan external assessment, dimana pada hari yang sama Amerika memulai proses assessment di negaranya. Portugal dan Tanzania menjadi dua pembicara berikutnya, membagi pengalaman sebagai negara yang telah menjalani external assessment.  Selain menghasilkan skor dan analisis pada 19 area teknis, Tanzania menegaskan bahwa proses JEE telah membantu segenap pihak dalam meningkatkan pemahaman dan komitmen bersama.

Panel kedua berfokus pada kolaborasi multi-sektoral dan mobilisasi sumber daya dalam peningkatan kapasitas negara. Dr. Päivi Sillanaukee, Sekretaris Tetap Kementerian Sosial dan Kesehatan Finlandia, Edith Schippers, Menteri Kesehatan Belanda, dan Dr. Tim Evans, Direktur Senior Bank Dunia, tiga pembicara dalam sesi kedua, membuka wacana lebih luas tentang kolaborasi dan model pembiayaan yang dapat digunakan dalam upaya peningkatan kapasitas di bidang IHR.

IMG-20160525-WA0007

Antusiasme peserta yang tinggi terlihat pada sesi tanya jawab. Ditengah kesibukannya, Dirjen WHO, Dr. Margareth Chan, menyempatkan diri untuk hadir dan menyampaikan beberapa poin.  “Let us all be the accelerators for a secure world against pandemic health threats!”, pesan DG Chan pada kesempatan tersebut.

IMG-20160525-WA0004

DG Chan memberikan apresiasi kepada GHSA yang telah mendorong pelaksanaan IHR dengan ide konkrit dan berjalan begitu cepat. Chan juga menegaskan bahwa external assessment telah menjadi kebutuhan dalam sistem monitoring evaluasi IHR sebagaimana juga direkomendasikan oleh tim review IHR.

Menkes Nila Moeloek menggaris-bawahi tiga hal penting dalam sambutan penutupnya. Pertama, kolaborasi multi-sektoral; kedua, sistem kesehatan nasional dan global; ketiga, penggunaan instrumen yang efektif.   (Miya)

Iklan

Regional Strategic Framework for Public Health Workforce Development on Epidemiology : Langkah Mempercepat IHR dan GHSA

 

DSC_0062

Bertempat di Jogjakarta Plaza Hotel, Workshop on Regional Strategic Framework for Human Health Workforce Development on Epidemiology Advancing IHR and GHSA telah dilaksanakan pada tanggal 9-10 Mei 2016. Diselenggarakan Pemerintah Thailand dalam kapasitanya sebagai lead country dari Action Package Workforce Development GHSA, workshop dihadiri oleh negara ASEAN, leading dan contributing country dari Action Package Workforce Development, serta mitra pembangunan seperti WHO, FAO, Sekretariat ASEAN, US-CDC, dan USAID.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan secara resmi membuka workshop pada tanggal 9 Mei 2016. Dalam sambutannya, digarisbawahi pentingnya peran health workforce, termasuk ahli epidemiologi, sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan, deteksi, dan respon terhadap ancaman kesehatan global. Yang tidak kalah penting juga adalah tenaga dari sektor peternakan dan lingkungan dalam konteks One Health Approach.

Dr. Jordan Tappero, Director, Division of Global Health Protection US-CDC, menyampaikan bahwa workforce merupakan komponen penting dalam mencapai health security. Kegiatan surveilans, deteksi penyakit di laboratorium, pelaporan, dan respons cepat dilakukan oleh workforce itu sendiri. Oleh karenanya, AP Workforce Development mendukung kegiatan dalam 10 AP lainnya, sehingga memiliki jumlah, distribusi dan kualitas workforce yang baik akan sangat berguna.

Workshop 2 hari tersebut menghasilkan draft Regional Strategic Framework for Public Health Workforce Development on Epidemiology Advancing IHR and GHSA melalui diskusi panjang diantara para peserta yang hadir. Draft framework berisi 4 strategic goals dalam rangka memiliki workforce multisektoral yang kompeten dan terkoordinasi. Diharapkan akan dapat final dalam waktu 1 bulan, framework dimaksudkan sebagai guidance yang bersifat tidak mengikat bagi negara-negara untuk mengembangkan strategi nasionalnya. “This framework should not stay in the drawer, but should be used as commitment and guidance to the development of national strategic plans, as well as advancement on the implementation”, tutur Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemkes dalam sambutannya menutup workshop. (Miya)

JEE Tool: Siap Jawab Status Kapasitas Negara

Dewasa ini, WHO (World Health Organization) bekerjasama dengan mitra global, salah satunya GHSA (Global Health Security Agenda), mengembangkan tool baru bernama Joint External Evaluation (JEE). Tool ini dimaksudkan untuk menanggapi kelemahan dalam pelaksanaan IHR (2005) dengan munculnya kejadian luar biasa (KLB) beberapa tahun terakhir ini dan memperkuat implementasi dari IHR (2005) itu sendiri. JEE dimaksudkan sebagai kerangka monitoring dan evaluasi IHR (2005) menggunakan mekanisme external assessment dengan prinsip kesukarelaan, disamping self-assessment yang selama ini dilakukan. Menindaklanjuti pengembangan JEE tool tersebut, Biro Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kesehatan menyelenggarakan workshop tentang JEE dan perannya dalam implementasi IHR (2005). Rabu (13/4), bertempat di ruang Mahogani 2, Hotel Royal Kuningan, Jakarta, workshop JEE tersebut dihadiri oleh expert JEE dan IHR, masing-masing dari WHO HQ yaitu Dr. Rajesh Sreedharan dan dari WHO SEARO yaitu Dr Bardan Jung Rana, serta diikuti sekitar 40 orang peserta dari berbagai unit di Kementerian Kesehatan. Utamanya, workshop ini ditujukan bagi calon assessor dari Indonesia yang rencananya akan ikut berpartisipasi dalam external assessment di beberapa negara dalam waktu dekat.

Workshop berlangsung selama 2 hari hingga hari Kamis (14/4) di ruangan yang sama. Kegiatan workshop pada hari Rabu dimulai pukul 10.00 WIB dan dipandu oleh Kepala Biro Kerja Sama Luar Negeri dan kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari WHO. Adapun di hari kedua, workshop berfokus pada kegiatan learning by doing, dimana peserta workshop diajak untuk melakukan simulasi external assessment, dengan mengambil contoh hasil self assessment dari negara Mozambique dengan JEE tool. Kegiatan ini dimulai dengan menganalisis laporan hasil penilaian yang dilakukan Mozambique, kemudian bersama-sama menentukan skor dari negara yang bersangkutan, hingga akhirnya diperoleh gambaran status kapasitas dari negara tersebut, baik berdasarkan technical area maupun kapasitas negara secara umum. Dalam sesi ini, peserta bertindak sebagai expert yang menjadi bagian dari external assessment dan diwajibkan untuk paham keseluruhan alur penilaian dan harus dapat ”pull out the information” secara dalam dan komprehensif.

Dalam kesempatan ini, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan sebagai perwakilan focal point IHR Indonesia memaparkan mengenai implementasi IHR dan GHSA di Indonesia. Sedangkan perwakilan WHO memaparkan mengenai JEE tool dan mekanisme pelaksanaan JEE secara spesifik. Adapun sebelum pelaksanaan  Joint External Evaluation, mekanisme yang perlu dilakukan yaitu annual reporting yang dilaporkan rutin setiap tahun pada sidang kesehatan dunia, after action review yang dilakukan setelah terjadi real events seperti wabah, dan exercise seandainya real events tidak terjadi. Ludy Suryantoro dari WHO HQ menyampaikan bahwa mekanisme tersebut dimaksudkan untuk mengetahui, ”where are the gaps? What we need to do? And how much we improve?”. Hal ini juga dimaksudkan agar negara tersebut benar-benar mengetahui status kesiapan negaranya dalam menghadapi tidak hanya ancaman kesehatan yang ada, tapi ancaman kesehatan yang akan datang.

Disamping itu, disampaikan bahwa pelaksanaan assessment dengan JEE tool juga untuk meyakinkan pihak donor yang ingin turut membantu peningkatan kapasitas suatu negara, sehingga gap yang didapat dari hasil assessment dapat diperkecil. Ludy juga menambahkan telah dikembangkannya strategic partnership portal yang memungkinkan penyelarasan proses pendanaan dan transparansi donor. “No matter what the tool, process, and report is, if it doesn’t get implemented, all the effort is for naught”,  tambah dr. Stella. (N.Jasmin)

20160414_120359

 20160414_101912

 20160414_101931

Strengthening National Capacity dengan Rangkul Lintas Sektor

DSC_0087

Senin, (28/3) bertempat di Ballroom Hotel Manhattan, Jakarta, Menteri Kesehatan resmi membuka salah satu agenda Global Health Security Agenda (GHSA) yakni seminar nasional (semnas) GHSA. Dengan mengundang berbagai lintas sektor, baik dari Kementerian/Lembaga, Universitas, Organisasi Profesi, LSM, Kedutaan di Jakarta, Organisasi Internasional, Mitra Pembangunan, dan Media, acara ini sukses dihadiri lebih dari 120 orang peserta. Kegiatan semnas dimulai pukul 08.30 hingga 12.30 WIB. Semnas GHSA ini menghadirkan beberapa pembicara dari berbagai kementerian dan lembaga yang kompeten dalam bidangnya. Kegiatan seminar bertujuan untuk diseminasi informasi GHSA secara komprehensif kepada seluruh stakeholder terkait. Kegiatan seminar dibagi menjadi 2 panel diskusi, panel 1 dipimpin oleh Dra. Maura Linda Sitanggang, PhD, selaku Direktur Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Kementerian Kesehatan dan panel kedua dipimpin oleh Dr. I Nyoman Kandun, MPH, selaku Direktur FETP (Field Epidemiology Training Program) Indonesia.

Sesi pertama berisi materi Global Health Security dalam Perspektif ketahanan Nasional oleh Tajar Bidang Kependudukan, Lemhanas, Jejaring Penelitian Bidang Kesehatan di Indonesia oleh Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengembangan, Kemenristek dan Dikti, dan materi  pendekatan One Health oleh Asisten Deputi Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit, Kemenko PMK. Sesi kedua berisi materi IHR (2005) & GHSA oleh dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes, selaku Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, materi  Sejarah Perkembangan GHSA dan Ketahanan Bangsa oleh Kolonel Laut (K/w) drg. Nora Lelyana, MHKes, selaku Sekretaris Pusat Kesehatan TNI, dan materi Workplan Kementerian Pertanian dalam Implementasi One Health oleh drh. Sri Mukartini, M.App.Sc, selaku Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Kementerian Pertanian.  Dalam kesempatan seminar nasional ini, Dr. Jihane Tawilah selaku WHO Representative to Indonesia menyampaikan apresiasinya terhadap Indonesia selaku ketua GHSA tahun 2016 dapat berperan aktif menyukseskan GHSA melalui berbagai kegiatan yang dilakukan, termasuk seminar nasional kali ini dan diharapkan Indonesia bisa berbagi pengalamannya selama menjadi ketua kepada negara lain.

Seluruh narasumber bersepakat perlunya peran aktif dari berbagai lintas sektor untuk mendorong peningkatan kapasitas nasional Indonesia dalam menjawab berbagai tantangan global yang ada. Ada tiga hal yang perlu terus ditingkatkan yaitu: cooperation dalam hal sharing vision yang harus sejalan, coordination dalam hal “siapa” yang melaksanakan “apa”, dan collaboration dalam hal sharing resources. Semua hal tersebut memerlukan suatu good governance agar tercipta suatu harmonisasi langkah. Diharapkan adanya pendekatan health in one policy, dimana setiap kebijakan publik yang diambil secara sistematis berwawasan kesehatan. “Dengan demikian, kapasitas nasional kita dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular berpotensi wabah semakin menguat demi terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.“ tutur Menteri Kesehatan menutup sambutannya. (N.Jasmin)

Berita Seputar Seminar Nasional GHSA, 28 Maret 2016

Indonesia menjadi Ketua Steering Group dan Troika GHSA tahun 2016

Pertemuan Steering Group GHSA telah dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2016 di Jenewa, Swiss. Pertemuan tersebut menandai dimulainya keketuaan Indonesia pada forum GHSA di tahun 2016, menggantikan Finlandia selaku Ketua tahun 2015.

DSC_0129.JPG

Serah terima Keketuaan Steering Group GHSA dari Finlandia ke Indonesia di Jenewa, 23 Januari 2016 (dok : Sekretariat GHSA Indonesia)

 

Pertemuan dihadiri oleh 10 Negara anggota Steering Group (Amerika Serikat, Chile, Finlandia, India, Indonesia, Italia, Kanada, Kenya, Korea Selatan, dan Saudi Arabia), Belanda (dalam kapasitas sebagai tuan rumah pertemuan tingkat tinggi GHSA bulan Oktober 2016), 3 permanent advisor GHSA (WHO, FAO, OIE), The World Bank, dan European Commission.

Beberapa hal yang dibahas dalam pertemuan tersebut antara lain adalah : laporan keketuaan Finlandia di tahun 2015; rencana kerja GHSA di tahun 2016; perkembangan dan rencana kegiatan Action Package dan Country Assessment; serta kemitraan dengan Non-Government Stakeholders.

DSC_0131.JPG

Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam pertemuan  Steering Group GHSA di Jenewa, 23 Januari 2016 (dok : Sekretariat GHSA Indonesia)

*Laporan lengkap pertemuan akan segera diunggah