Regional Strategic Framework for Public Health Workforce Development on Epidemiology : Langkah Mempercepat IHR dan GHSA

 

DSC_0062

Bertempat di Jogjakarta Plaza Hotel, Workshop on Regional Strategic Framework for Human Health Workforce Development on Epidemiology Advancing IHR and GHSA telah dilaksanakan pada tanggal 9-10 Mei 2016. Diselenggarakan Pemerintah Thailand dalam kapasitanya sebagai lead country dari Action Package Workforce Development GHSA, workshop dihadiri oleh negara ASEAN, leading dan contributing country dari Action Package Workforce Development, serta mitra pembangunan seperti WHO, FAO, Sekretariat ASEAN, US-CDC, dan USAID.

Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan secara resmi membuka workshop pada tanggal 9 Mei 2016. Dalam sambutannya, digarisbawahi pentingnya peran health workforce, termasuk ahli epidemiologi, sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan, deteksi, dan respon terhadap ancaman kesehatan global. Yang tidak kalah penting juga adalah tenaga dari sektor peternakan dan lingkungan dalam konteks One Health Approach.

Dr. Jordan Tappero, Director, Division of Global Health Protection US-CDC, menyampaikan bahwa workforce merupakan komponen penting dalam mencapai health security. Kegiatan surveilans, deteksi penyakit di laboratorium, pelaporan, dan respons cepat dilakukan oleh workforce itu sendiri. Oleh karenanya, AP Workforce Development mendukung kegiatan dalam 10 AP lainnya, sehingga memiliki jumlah, distribusi dan kualitas workforce yang baik akan sangat berguna.

Workshop 2 hari tersebut menghasilkan draft Regional Strategic Framework for Public Health Workforce Development on Epidemiology Advancing IHR and GHSA melalui diskusi panjang diantara para peserta yang hadir. Draft framework berisi 4 strategic goals dalam rangka memiliki workforce multisektoral yang kompeten dan terkoordinasi. Diharapkan akan dapat final dalam waktu 1 bulan, framework dimaksudkan sebagai guidance yang bersifat tidak mengikat bagi negara-negara untuk mengembangkan strategi nasionalnya. “This framework should not stay in the drawer, but should be used as commitment and guidance to the development of national strategic plans, as well as advancement on the implementation”, tutur Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemkes dalam sambutannya menutup workshop. (Miya)

Iklan